Tutup Wacana Jembatan Jawa–Bali, Agung Gempa: Hormati Sejarah dan Warisan Leluhur

•

JEMBRANA — I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana (Agung Gempa), Ketua Umum Puri Andul Jembrana, menyerukan agar wacana pembangunan Jembatan Jawa–Bali atau Ketapang–Gilimanuk tidak terus digulirkan. Menurutnya, penguatan konektivitas Jawa dan Bali tetap dapat dilakukan melalui pembangunan infrastruktur dan transportasi yang maju tanpa mengabaikan sejarah, adat, budaya, serta warisan leluhur Bali.

Agung Gempa menegaskan bahwa pembangunan dan modernisasi harus terus berjalan untuk meningkatkan perekonomian serta kesejahteraan masyarakat. Namun, setiap kebijakan pembangunan perlu mempertimbangkan karakter, sejarah, lingkungan, serta nilai-nilai yang hidup dan diwariskan secara turun-temurun.

Pandangan tersebut bukan sikap yang baru disampaikannya. Sejak 16 Maret 2016, Agung Gempa telah menyuarakan pandangan serupa mengenai wacana Jembatan Jawa–Bali.

“Konektivitas harus semakin maju, infrastruktur harus semakin baik. Tetapi kemajuan jangan sampai membuat kita kehilangan akar sejarah, adat, budaya, tradisi, dan warisan leluhur yang membentuk jati diri Bali,” ujar Agung Gempa.

Sebagai Ketua Umum Puri Andul Jembrana, ia memandang puri di era modern tidak hanya memiliki tanggung jawab menjaga peninggalan masa lalu, tetapi juga ikut merawat kesadaran sejarah, budaya, persaudaraan, serta mewariskan nilai-nilai tersebut kepada generasi berikutnya.

Menurutnya, Bali Barat tetap harus berkembang melalui peningkatan infrastruktur jalan, transportasi, penyeberangan, pelayanan publik, serta berbagai pembangunan strategis yang memperkuat perekonomian Jembrana dan Bali.

“Jawa dan Bali harus semakin dekat dalam persaudaraan, ekonomi, pendidikan, pariwisata dan pembangunan. Namun kedekatan itu tidak harus menghilangkan batas sejarah dan identitas yang diwariskan para leluhur,” tegasnya.

Agung Gempa berpandangan bahwa modernisasi dan pelestarian budaya tidak perlu dipertentangkan. Pembangunan dapat terus bergerak maju, sementara sejarah dan warisan leluhur tetap dijaga sebagai bagian dari identitas Bali.

“Ngiring membangun dengan pikiran maju tanpa kehilangan akar. Infrastruktur kita bangun untuk generasi masa depan, dan sejarah serta warisan leluhur kita jaga untuk generasi yang sama.”

Melalui pandangan tersebut, Agung Gempa mengajak masyarakat untuk menutup wacana Jembatan Jawa–Bali dan mengarahkan energi bersama pada pembangunan konektivitas yang modern, aman, berkelanjutan, serta tetap menghormati sejarah dan jati diri Bali.

•

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *