Melalui LPK Garuda College Indonesia dan jaringan PT SIMAS Bali, pelaku UMKM mendapat literasi, pelatihan, dan konsultasi pemanfaatan teknologi
Transformasi digital membuka peluang yang semakin luas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Produk lokal kini dapat diperkenalkan dan dipasarkan tanpa dibatasi jarak, wilayah, maupun jam operasional. Namun, pemanfaatan teknologi digital tidak semestinya berhenti pada pembuatan akun media sosial dan pemasangan produk di marketplace.
Praktisi teknologi informasi, pelaku usaha, dan penggerak transformasi digital, I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana atau Agung Gempa, mendorong UMKM untuk mulai membangun kemandirian digital melalui website profesional yang dapat dikelola sendiri.
Website, menurutnya, bukan hanya tempat menampilkan profil usaha. Website dapat dikembangkan menjadi pusat informasi, katalog produk, ruang promosi, pelayanan konsumen, hingga pintu masuk transaksi yang tetap bekerja ketika toko fisik sudah tutup.
Upaya memperkuat kapasitas pelaku usaha tersebut juga dilakukan melalui LPK Garuda College Indonesia bersama jaringan PT Sinar Emas Garuda Sukses atau SIMAS Bali. Lembaga ini telah memberikan literasi, pendidikan dan pelatihan, serta konsultasi secara langsung kepada masyarakat dan pelaku UMKM, termasuk melalui pelayanan konsultasi di kantornya di Denpasar.
Program tersebut diarahkan untuk membantu pelaku UMKM meningkatkan kemandirian dan kemajuan usahanya dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan secara tepat, praktis, dan optimal.
Berikut wawancara khusus bersama Agung Gempa mengenai pentingnya membangun rumah digital sendiri bagi UMKM.
Mengapa Bapak mendorong UMKM untuk mulai membangun kemandirian digital?
Agung Gempa:
Om Swastyastu. Rahayu semeton Bali semuanya.
Perubahan perilaku konsumen berlangsung sangat cepat. Sebelum membeli, masyarakat biasanya mencari informasi terlebih dahulu melalui telepon genggam. Mereka ingin melihat produk, membandingkan harga, membaca ulasan, mengetahui lokasi, dan memastikan bahwa usaha tersebut dapat dipercaya.
Karena itu, kehadiran digital bukan lagi sekadar pilihan tambahan. Kehadiran digital sudah menjadi bagian penting dari pelayanan dan keberlangsungan sebuah usaha.
Namun, UMKM jangan hanya hadir di internet. UMKM juga perlu memiliki kendali terhadap identitas, informasi, produk, dan sistem pelayanannya sendiri. Inilah yang saya maksud dengan kemandirian digital.
Bukankah media sosial dan marketplace sudah cukup untuk berjualan secara online?
Agung Gempa:
Media sosial dan marketplace sangat membantu. Media sosial bagus untuk membangun interaksi dan memperkenalkan produk, sedangkan marketplace dapat mempermudah transaksi.
Namun, keduanya merupakan platform milik pihak lain. Aturan, algoritma, biaya layanan, jangkauan konten, dan kebijakannya dapat berubah sewaktu-waktu.
Kalau seluruh aktivitas usaha hanya bergantung pada satu platform, pelaku UMKM akan memiliki keterbatasan dalam mengendalikan perkembangan bisnisnya.
Media sosial dan marketplace tetap kita gunakan, tetapi sebaiknya dilengkapi dengan website resmi. Media sosial dapat menjadi jalan untuk menjangkau masyarakat, sedangkan website menjadi rumah digital yang kita kelola sendiri.
Apa fungsi utama website bagi UMKM?
Agung Gempa:
Website dapat menjadi pusat seluruh informasi usaha. Di dalamnya, kita dapat menampilkan profil, katalog produk, harga, ketersediaan barang, cara pemesanan, alamat, kontak, testimoni, hingga berbagai aktivitas usaha.
Website juga memperkuat kepercayaan konsumen. Ketika masyarakat mencari nama sebuah usaha di internet dan menemukan website resmi dengan informasi yang jelas, mereka akan lebih yakin bahwa usaha tersebut dikelola secara serius dan profesional.
Yang terpenting, website memberi keleluasaan kepada pemilik usaha untuk mengendalikan isi dan tampilannya. Produk dapat ditambah, harga dapat diperbarui, promosi dapat diganti, dan fitur baru dapat dikembangkan kapan saja sesuai kebutuhan serta kreativitas usaha.
Pelaku UMKM tidak harus selalu menunggu atau menyesuaikan diri dengan format yang ditentukan oleh platform lain.
Bapak menyebut website sebagai toko yang tidak pernah tutup. Apa maksudnya?
Agung Gempa:
Toko fisik tentu memiliki jam operasional. Ketika malam tiba, pegawai pulang dan toko ditutup. Namun, konsumen dapat mencari produk kapan saja, termasuk pada malam hari, hari libur, atau ketika pemilik usaha sedang beristirahat.
Kalau kita memiliki website, konsumen masih dapat melihat produk, membaca informasi, memeriksa harga, dan menghubungi admin. Jika sistemnya sudah mendukung, konsumen juga dapat melakukan pemesanan secara langsung.
Jadi, meskipun toko fisik tutup, pelayanan digital tetap berjalan.
Itulah sebabnya saya menyebut website sebagai toko digital yang tidak pernah tutup. Website bekerja selama 24 jam untuk memperkenalkan produk dan memberikan informasi awal kepada konsumen.
Website seperti apa yang cocok untuk UMKM?
Agung Gempa:
Website UMKM tidak harus rumit dan tidak perlu dipenuhi terlalu banyak fitur. Prinsip utamanya adalah profesional, sederhana, cepat, mudah dipahami, serta mudah diperbarui.
Saat ini sebagian besar konsumen mengakses internet melalui telepon genggam. Karena itu, website harus nyaman dibuka di berbagai ukuran HP, bukan hanya terlihat bagus di komputer.
Pengunjung harus dapat menemukan produk, harga, keterangan, tombol pemesanan, serta kontak admin dengan cepat. Jangan membuat konsumen harus menekan terlalu banyak menu hanya untuk mengetahui cara membeli.
Website juga harus ringan agar dapat dibuka dengan baik meskipun koneksi internet konsumen tidak terlalu cepat.
Selain itu, informasi di dalamnya harus selalu diperbarui. Jangan sampai harga sudah berubah tetapi yang ditampilkan masih harga lama. Jangan pula menampilkan produk yang sudah habis tanpa keterangan yang jelas.
Website yang aktif dan terbarui menunjukkan bahwa usaha tersebut benar-benar dikelola secara profesional.
Bagaimana teknologi AI dapat membantu pelayanan konsumen?
Agung Gempa:
Website dapat dikembangkan dengan pelayanan percakapan berbasis kecerdasan buatan atau AI. Sistem tersebut dapat dirancang untuk menjawab pertanyaan yang sering disampaikan konsumen, menjelaskan produk, memberikan informasi harga, membantu memilih barang, dan mengarahkan proses pemesanan.
Website juga dapat dihubungkan dengan WhatsApp agar konsumen bisa langsung berkomunikasi dengan admin.
Dengan sistem seperti ini, konsumen tetap memperoleh respons awal ketika admin sedang sibuk atau berada di luar jam kerja. Pelayanan menjadi lebih cepat dan pemilik usaha dapat menghemat waktu karena tidak harus menjawab pertanyaan yang sama secara berulang.
Namun, AI tetap berfungsi sebagai alat bantu. Untuk keluhan, negosiasi, permintaan khusus, atau persoalan yang membutuhkan pertimbangan, konsumen harus tetap dapat terhubung dengan manusia.
Teknologi yang baik bukan menghilangkan sentuhan manusia, melainkan membantu manusia memberikan pelayanan yang lebih cepat, tepat, dan konsisten.
Apakah gagasan tersebut juga diterapkan melalui pelatihan kepada UMKM?
Agung Gempa:
Ya. Melalui LPK Garuda College Indonesia, kami tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga memberikan literasi, pendidikan dan pelatihan, serta konsultasi langsung kepada pelaku UMKM.
Pelaku usaha dapat berkonsultasi secara langsung di kantor kami di Denpasar. Kami juga memberikan pelatihan langsung kepada UMKM agar mereka dapat memahami penggunaan teknologi sesuai kebutuhan usahanya.
Materinya tidak hanya mengenai cara membuat media sosial atau website. Pelaku UMKM juga perlu memahami dasar-dasar branding, pemasaran digital, pembuatan konten, pelayanan konsumen, pengelolaan informasi produk, serta penggunaan teknologi dan AI secara bertanggung jawab.
Pelatihan diarahkan agar teknologi benar-benar dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, kualitas pelayanan, dan daya saing usaha.
Kita tidak ingin pelaku UMKM hanya menjadi penonton dalam perkembangan teknologi. Mereka harus mampu menggunakan, mengendalikan, dan mengembangkan teknologi untuk mendukung kemajuan usahanya.
Apa peran jaringan PT SIMAS Bali dalam program tersebut?
Agung Gempa:
LPK Garuda College Indonesia didukung oleh jaringan PT Sinar Emas Garuda Sukses atau SIMAS Bali, yang bergerak dalam pengembangan media, teknologi informasi, komunikasi digital, pendidikan, pelatihan, dan konsultasi.
Dukungan jaringan tersebut memungkinkan kegiatan pelatihan tidak berhenti pada teori. Pelaku UMKM dapat memperoleh pendampingan untuk menerapkan hasil pelatihan sesuai kondisi usaha masing-masing.
Ada UMKM yang membutuhkan penguatan identitas dan branding. Ada yang perlu membuat katalog digital dan website. Ada pula yang membutuhkan sistem pemesanan, promosi media sosial, pengelolaan konten, atau pelayanan yang terhubung dengan WhatsApp dan AI.
Karena kebutuhan setiap usaha berbeda, pendekatannya juga harus disesuaikan. Teknologi tidak boleh dipaksakan. Teknologi harus menjadi solusi yang sederhana, mudah digunakan, dan memberikan manfaat nyata.
Apakah memiliki website otomatis membuat usaha lebih mudah dikenal?
Agung Gempa:
Tidak otomatis. Website harus dihubungkan dengan strategi marketing yang baik. Tautan website perlu dicantumkan di media sosial, materi promosi, kemasan produk, kartu nama, profil bisnis, dan berbagai saluran komunikasi lainnya.
Marketing bertugas membawa masyarakat menuju usaha kita. Namun, setelah masyarakat datang, mereka harus mendapatkan pengalaman yang baik.
Di sinilah branding berperan. Branding bukan hanya logo, warna, atau desain kemasan. Branding adalah keseluruhan kesan yang tertinggal di benak konsumen setelah berinteraksi dengan usaha kita.
Kalau website terlihat profesional, tetapi admin lambat merespons dan kualitas produknya tidak sesuai dengan informasi, kepercayaan konsumen akan tetap menurun.
Karena itu, teknologi, marketing, branding, kualitas produk, dan pelayanan harus berjalan bersama.
Apa hubungan antara website dan pembangunan brand?
Agung Gempa:
Website merupakan salah satu tempat terbaik untuk menjelaskan siapa kita dan apa yang membedakan usaha kita dari yang lain.
Melalui website, UMKM dapat menyampaikan cerita di balik produk, proses produksi, bahan yang digunakan, profil petani atau perajin yang terlibat, nilai budaya yang dibawa, serta manfaat produk bagi konsumen.
Informasi seperti ini sulit disampaikan secara lengkap melalui satu unggahan media sosial.
Website memberi ruang bagi pelaku usaha untuk membangun cerita dan identitas brand secara lebih utuh. Ketika tampilan, bahasa, kualitas produk, dan pelayanan disajikan secara konsisten, kepercayaan konsumen akan tumbuh.
Ingat, brand tidak hanya hidup pada logo atau spanduk, tetapi terutama pada ingatan dan pengalaman konsumen.
Bagaimana UMKM dengan anggaran terbatas dapat memulai transformasi digital?
Agung Gempa:
Mulailah secara bertahap. Tidak perlu langsung membangun sistem yang terlalu besar.
Tahap pertama, siapkan identitas usaha yang jelas, meliputi nama, logo, deskripsi usaha, alamat, kontak, dan produk unggulan.
Tahap kedua, buat website sederhana yang menampilkan profil, katalog produk, harga, dan tombol pemesanan melalui WhatsApp.
Tahap ketiga, pastikan pemilik atau admin dapat memperbarui produk dan informasi secara mandiri.
Setelah usaha berkembang, website dapat ditambah dengan fitur pemesanan, pembayaran, pencatatan pelanggan, laporan penjualan, hingga pelayanan berbasis AI.
Bagi pelaku UMKM yang belum memahami tahapannya, pelatihan dan konsultasi dapat menjadi jalan untuk menentukan teknologi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan usaha.
Yang terpenting bukan seberapa banyak fiturnya, tetapi apakah teknologi tersebut mudah digunakan, membantu pelayanan, dan mendukung perkembangan usaha.
Apa pesan Bapak bagi generasi muda dan pelaku UMKM di Bali?
Agung Gempa:
Saya mengajak generasi muda dan pelaku UMKM Bali untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mulai menjadi pengendali teknologi bagi kemajuan usahanya.
Gunakan media sosial untuk memperluas jangkauan. Manfaatkan marketplace sebagai salah satu saluran penjualan. Namun, bangun juga website sebagai rumah digital yang dapat dikelola sendiri.
Jangan hanya mengejar viralitas dan penjualan sesaat. Bangun identitas, kualitas, kepercayaan, serta hubungan jangka panjang dengan konsumen.
Melalui LPK Garuda College Indonesia bersama jaringan PT SIMAS Bali, kami akan terus mendorong kegiatan literasi, pendidikan dan pelatihan, konsultasi, serta pendampingan yang mendukung kemandirian dan kemajuan UMKM melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi secara optimal.
Website profesional, branding yang kuat, sumber daya manusia yang terampil, dan pelayanan berbasis AI dapat menjadi fondasi penting bagi UMKM untuk tumbuh lebih mandiri dan berdaya saing.
Teknologi memberikan peluang yang sama kepada usaha besar maupun usaha kecil. Hal yang membedakan adalah keberanian untuk memulai, kemauan untuk belajar, serta konsistensi dalam memberikan kualitas dan pelayanan terbaik.
Mari membangun UMKM Bali yang kreatif, mandiri secara digital, berakar pada budaya, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Om Santi, Santi, Santi Om.








Tinggalkan Balasan