JEMBRANA — Kehadiran tiga Presiden Republik Indonesia dalam perjalanan sejarah Kabupaten Jembrana menjadi penanda penting bahwa Bali Barat mempunyai posisi strategis dalam pembangunan nasional. Mulai dari Presiden Soeharto pada 23 Juli 1989, Presiden Joko Widodo pada 2 Februari 2023, hingga Presiden Prabowo Subianto pada 25 Agustus 2026, seluruhnya datang membawa perhatian terhadap potensi dan kebutuhan pembangunan Kabupaten Jembrana serta Bali secara umum.
Tokoh muda Jembrana sekaligus penggerak ekonomi kreatif, I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana atau Agung Gempa, memandang rangkaian kunjungan tersebut bukan sekadar catatan sejarah. Kehadiran tiga Presiden RI harus menjadi momentum untuk menumbuhkan keyakinan dan optimisme bersama bahwa Bali Barat akan segera melangkah maju serta mengambil peran lebih besar dalam pertumbuhan ekonomi Bali.
“Tiga Presiden Republik Indonesia sudah datang ke Jembrana. Ini merupakan sinyal kuat bahwa Bali Barat memiliki posisi penting dan potensi besar untuk dikembangkan. Sudah saatnya kita membangun optimisme bahwa Jembrana akan melangkah maju dan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Bali,” ujar Agung Gempa di Jembrana, Rabu (26/8/2026).
Presiden Soeharto pada 23 Juli 1989 tercatat mengunjungi Jembrana untuk meresmikan Bendungan Palasari di Kecamatan Melaya. Bendungan tersebut hingga kini menjadi infrastruktur penting yang mendukung pertanian, pengairan, pengendalian banjir, perikanan, dan potensi pariwisata di wilayah Bali Barat.
Selanjutnya, Presiden Joko Widodo pada 2 Februari 2023 mengunjungi Pasar Umum Melaya dan Sentra Tenun Jembrana. Kunjungan itu memperlihatkan perhatian pemerintah terhadap perekonomian rakyat, pasar tradisional, UMKM, produk tenun, serta industri kreatif masyarakat Jembrana.
Terbaru, Presiden Prabowo Subianto pada 25 Agustus 2026 datang ke Gilimanuk untuk meluncurkan Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya Nasional berkapasitas 100 GWp sekaligus melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking pembangunan PLTS di Gilimanuk.
Menurut Agung Gempa, ketiga kunjungan tersebut membawa pesan pembangunan yang saling berkesinambungan. Peresmian Bendungan Palasari menjadi tonggak penguatan pertanian dan sumber daya air. Kunjungan ke pasar dan sentra tenun menegaskan pentingnya ekonomi rakyat serta produk lokal. Sementara itu, peluncuran Program PLTS Nasional dari Gilimanuk membuka babak baru transformasi energi bersih.
“Rangkaian ini harus kita maknai sebagai energi pembangunan. Jembrana tidak boleh terus dipandang hanya sebagai daerah perlintasan dari Pulau Jawa menuju Bali Selatan. Jembrana harus berkembang menjadi daerah tujuan investasi, pariwisata, pertanian, perikanan, industri kreatif, dan pengembangan energi bersih,” katanya.
Potensi Besar Bali Barat “Nyegara Gunung”
Agung Gempa menyampaikan bahwa Bali Barat mempunyai potensi pembangunan Nyegara Gunung, yakni potensi wilayah yang terbentang utuh dari kawasan laut dan pesisir hingga perbukitan, perkebunan, hutan, dan pegunungan.
Kabupaten Jembrana memiliki sektor pertanian dan perkebunan, sumber daya perikanan dan kelautan, kawasan pesisir, hutan, pelabuhan, energi terbarukan, kerajinan tenun, kuliner, desa wisata, serta kekayaan seni dan budaya seperti Jegog dan Mekepung.
Kekuatan tersebut semakin lengkap dengan posisi Pelabuhan Gilimanuk sebagai pintu gerbang utama Bali dari Pulau Jawa. Posisi strategis ini memberikan peluang besar bagi pengembangan perdagangan, logistik, transportasi, pariwisata, dan pusat-pusat ekonomi baru.
Menurut Agung Gempa, pembangunan Bali Barat harus dirancang secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Produk pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kerajinan, kuliner, serta industri kreatif masyarakat harus terhubung dengan pasar, pariwisata, dan teknologi digital.
“Jembrana memiliki hampir seluruh modal dasar untuk maju. Kita mempunyai laut, pesisir, sawah, perkebunan, hutan, pelabuhan, energi, budaya, dan sumber daya manusia. Semangat Nyegara Gunung harus menjadi kekuatan untuk membangun Bali Barat secara utuh, seimbang, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pemerataan Kue Pariwisata Bali
Agung Gempa menyoroti perkembangan pariwisata Bali yang masih lebih banyak terkonsentrasi di wilayah Bali Selatan. Kondisi tersebut menyebabkan manfaat ekonomi atau “kue pariwisata” belum sepenuhnya tersebar secara merata sampai ke Bali Barat, Bali Utara, dan wilayah lainnya.
Padahal, Jembrana memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi pariwisata alternatif yang berkualitas dan berkarakter. Pengembangannya dapat berbasis pada alam, pertanian, bahari, budaya, spiritual, kuliner, ekonomi kreatif, dan kehidupan masyarakat lokal.
Pembangunan pariwisata Bali Barat tidak harus meniru pola pembangunan Bali Selatan. Jembrana harus tumbuh dengan identitasnya sendiri, menjaga kelestarian lingkungan dan ruang hidup masyarakat, sekaligus menempatkan adat, tradisi, budaya, dan agama sebagai fondasi pembangunan.
“Pembangunan tidak boleh hanya menghadirkan bangunan dan investasi. Pembangunan harus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat lokal, membuka lapangan pekerjaan, menghidupkan UMKM dan koperasi, serta meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan perikanan Jembrana,” tegasnya.
Menurut Agung Gempa, pemerataan pembangunan bukan berarti memindahkan kepadatan dari Bali Selatan ke Bali Barat. Pemerataan harus diwujudkan melalui pembangunan yang terkendali, berkualitas, berbasis potensi wilayah, dan memberikan ruang utama kepada masyarakat lokal.
Tol Gilimanuk–Mengwi Menjadi Titik Ungkit
Salah satu proyek yang dinilai dapat menjadi titik ungkit pertumbuhan Bali Barat adalah rencana pembangunan Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi. Proyek yang tercantum sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional tersebut diharapkan memperkuat konektivitas Pelabuhan Gilimanuk dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi Bali.
Menurut Agung Gempa, apabila direalisasikan dengan perencanaan matang dan berpihak kepada kepentingan masyarakat, Tol Gilimanuk–Mengwi tidak hanya mempercepat mobilitas orang dan barang, tetapi juga dapat membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di sepanjang wilayah Bali Barat.
Keberadaan jalan tol harus diintegrasikan dengan sentra pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pelabuhan, kawasan UMKM, industri kreatif, desa wisata, pusat kebudayaan, dan usaha masyarakat lokal.
Dengan pola tersebut, masyarakat Jembrana tidak sekadar menjadi penonton pembangunan, tetapi menjadi pelaku utama sekaligus penerima manfaat pertumbuhan ekonomi.
“Tol Gilimanuk–Mengwi akan menjadi titik ungkit pemerataan kue pariwisata dan pertumbuhan berbagai sektor. Sejak awal harus disiapkan strategi agar tenaga kerja lokal, petani, nelayan, pelaku UMKM, koperasi, dan pengusaha lokal memperoleh ruang yang kuat,” jelasnya.
Ia berpandangan bahwa berbagai rencana strategis di Bali Barat dan Bali Utara akan saling memperkuat. Peningkatan konektivitas, pengembangan Pelabuhan Gilimanuk dan Pelabuhan Perikanan Nusantara Pengambengan, pembangunan energi bersih, pertanian modern, pariwisata berkualitas, ekonomi kreatif, serta penguatan infrastruktur menuju Bali Utara akan membentuk poros pertumbuhan baru di luar Bali Selatan.
Wujudkan Jembrana Maju Harus Dikerjakan Bersama
Sebagai Ketua Umum Puri Andul Jembrana, Agung Gempa terus mendorong gagasan daerah maju yang bertumpu pada sinergi, gotong royong, pemanfaatan teknologi, penguatan ekonomi kerakyatan, dan pelestarian budaya.
Menurutnya, gagasan kemajuan daerah tidak boleh berhenti sebagai wacana. Gagasan harus diterjemahkan menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Jembrana, desa adat, dunia usaha, koperasi, akademisi, media, generasi muda, dan seluruh komponen masyarakat.
“Daerah maju tidak lahir dari kerja satu orang atau satu lembaga. Kemajuan harus diperjuangkan secara bersama-sama melalui gagasan yang jelas, keberanian melakukan perubahan, kerja nyata, dan semangat gotong royong,” katanya.
Agung Gempa mengapresiasi kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster yang terus mendorong pemerataan pembangunan antarwilayah sekaligus memberikan perhatian terhadap penguatan desa adat, tradisi, seni, budaya, dan kearifan lokal Bali.
Menurutnya, pembangunan Bali harus tetap berpijak pada karakter dan jati diri Bali. Kemajuan ekonomi dan pembangunan infrastruktur harus berjalan seimbang dengan pelindungan alam, manusia, serta kebudayaan Bali.
Agung Gempa juga mengapresiasi upaya nyata Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan yang terus bergerak, membangun komunikasi, dan memperkuat semangat gotong royong dalam memperjuangkan kemajuan Jembrana.
“Bupati Kembang bersama seluruh jajaran tidak kenal lelah membangun Jembrana. Semangat gotong royong dan kolaborasi ini harus terus kita dukung karena pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri dalam membangun daerah,” ungkapnya.
Generasi Muda Harus Menjadi Pelaku
Agung Gempa mengajak generasi muda Jembrana agar tidak hanya menjadi penonton dalam menghadapi perubahan. Anak-anak muda harus mempersiapkan keterampilan, kreativitas, penguasaan teknologi, jaringan usaha, serta keberanian menciptakan peluang di daerah sendiri.
Ruang bagi generasi muda harus semakin diperluas dalam bidang teknologi digital, industri kreatif, pertanian modern, pariwisata, pendidikan dan pelatihan kerja, koperasi, UMKM, media, serta pengembangan produk lokal.
“Optimisme harus diikuti dengan kesiapan. Ketika infrastruktur dan investasi masuk, sumber daya manusia Jembrana harus siap mengambil peran. Jangan sampai peluang besar justru lebih banyak dinikmati pihak luar karena kita terlambat mempersiapkan diri,” katanya.
Ia juga mendorong penguatan ekosistem digital agar berbagai potensi dan produk unggulan Jembrana semakin dikenal, mudah dipasarkan, serta mampu menjangkau konsumen nasional maupun internasional.
Budaya Menjadi Spirit Pembangunan
Agung Gempa menegaskan bahwa kemajuan Jembrana tidak boleh menghilangkan identitas dan akar kehidupan masyarakat. Adat, tradisi, budaya, dan agama harus tetap ajeg serta menjadi spirit dalam setiap proses pembangunan.
“Daerah wajib maju dan masyarakat harus semakin sejahtera, tetapi adat, tradisi, budaya, dan agama harus tetap ajeg. Budaya bukan penghambat pembangunan. Justru budaya adalah kekuatan, jati diri, dan spirit utama pembangunan Bali,” tegasnya.
Agung Gempa merupakan praktisi teknologi informasi dan komunikasi digital sejak 1996, entrepreneur, serta penggerak media, koperasi, pendidikan, pariwisata digital, UMKM, dan ekonomi kreatif.
Saat ini, ia dipercaya sebagai Ketua Umum Puri Andul Jembrana, Ketua Bidang TIK/IT Dekopinwil Bali, Sekretaris Koperasi Multi Pihak Bali Bangkit Sejahtera, serta Direktur Utama PT Sinar Emas Garuda Sukses–Media Bali Online Grup.
Melalui pengalaman dan aktivitasnya tersebut, Agung Gempa terus membawa gagasan kolaborasi antara teknologi, komunikasi publik, budaya, koperasi, dan ekonomi kerakyatan sebagai bagian dari gerakan membangun daerah yang maju, mandiri, dan berdaya saing.
“Tiga Presiden telah datang ke Jembrana. Kini saatnya seluruh elemen masyarakat bersatu, bekerja, dan bergotong royong. Astungkara, melalui sinergi pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Jembrana, dan seluruh masyarakat, Bali Barat akan melangkah maju, tumbuh semakin hebat, serta tetap kokoh menjaga jati dirinya,” pungkas Agung Gempa. (admin)








Tinggalkan Balasan