DENPASAR – Di tengah perubahan global yang berlangsung sangat cepat, berbagai negara berlomba-lomba membangun ekonomi kreatif sebagai sumber pertumbuhan baru. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan perubahan perilaku konsumen telah melahirkan peluang ekonomi yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.
Namun bagi Bali, sesungguhnya fondasi ekonomi kreatif telah ada jauh sebelum istilah ekonomi kreatif dikenal luas seperti sekarang.
Bali memiliki kekayaan budaya yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Seni tari, seni tabuh, tradisi adat, kerajinan, kuliner, arsitektur, hingga filosofi kehidupan masyarakat Bali merupakan kekuatan yang tidak dimiliki banyak daerah di dunia.
Menurut praktisi Teknologi Informasi dan penggerak ekonomi kreatif Bali, I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana atau yang lebih dikenal sebagai Agung Gempa, budaya Bali sesungguhnya bukan hanya warisan leluhur yang harus dijaga, tetapi juga aset strategis yang mampu menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat.
“Selama ini kita sering melihat budaya hanya sebagai sesuatu yang harus dilestarikan. Itu memang penting. Namun di sisi lain, budaya juga harus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya. Ketika budaya memberikan kesejahteraan, maka pelestarian budaya akan berjalan lebih kuat dan berkelanjutan,” ujar Agung Gempa.
Menurutnya, perkembangan ekonomi global saat ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi hanya membeli produk. Konsumen modern membeli cerita, pengalaman, identitas, dan nilai yang terkandung di dalam sebuah produk.
Ketika wisatawan membeli kain endek Bali, sesungguhnya yang dibeli bukan sekadar kain. Di balik setiap motif terdapat filosofi, sejarah, keterampilan pengrajin, serta identitas budaya yang menjadi nilai tambah produk tersebut.
Demikian pula ketika wisatawan menikmati pertunjukan tari tradisional, membeli kerajinan perak, menikmati kuliner khas Bali, atau berkunjung ke desa wisata. Yang dijual bukan semata produk dan jasa, melainkan pengalaman budaya yang autentik.
Agung Gempa menilai Bali memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat ekonomi kreatif berbasis budaya terdepan di Indonesia bahkan dunia.
Potensi tersebut terlihat dari keberagaman sektor yang dimiliki Bali, mulai dari seni pertunjukan, seni rupa, kriya, fesyen berbasis kain tradisional, kuliner, fotografi, film, musik, desain, hingga pengembangan desa wisata berbasis budaya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa potensi besar tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa inovasi dan adaptasi terhadap perkembangan zaman.
Menurutnya, salah satu tantangan yang dihadapi pelaku ekonomi kreatif saat ini adalah masih terbatasnya pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran dan pengembangan usaha.
Masih banyak pengrajin, seniman, maupun pelaku UMKM kreatif yang memiliki produk berkualitas, namun belum mampu menjangkau pasar yang lebih luas karena keterbatasan promosi dan branding.
Padahal di era digital saat ini, sebuah produk lokal dari desa dapat dikenal hingga pasar internasional hanya melalui smartphone dan koneksi internet.
“Teknologi seharusnya menjadi jembatan antara budaya Bali dengan pasar global. Kita memiliki produk yang luar biasa, tinggal bagaimana membangun kemasan, cerita, dan strategi pemasaran yang tepat agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Agung Gempa juga melihat perkembangan Artificial Intelligence (AI) sebagai peluang baru yang dapat dimanfaatkan pelaku ekonomi kreatif Bali.
Menurutnya, AI dapat membantu pelaku usaha membuat konten promosi, desain pemasaran, deskripsi produk, materi edukasi, hingga riset pasar dengan biaya yang jauh lebih efisien dibanding sebelumnya.
Namun ia mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat bantu.
“Kita jangan sampai kehilangan identitas. AI bisa membantu membuat promosi yang menarik, tetapi yang membuat produk Bali bernilai tetaplah budaya, kreativitas, kualitas karya, dan manusia di baliknya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Agung Gempa menilai bahwa masa depan ekonomi Bali harus dibangun melalui sinergi antara budaya, teknologi, UMKM, koperasi, pariwisata, dan penguatan sumber daya manusia.
Ia meyakini bahwa generasi muda Bali memiliki peran penting dalam proses tersebut.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin terbuka, generasi muda memiliki peluang besar untuk menjadi kreator digital, pelaku ekonomi kreatif, pengusaha berbasis budaya, hingga pengembang berbagai produk inovatif yang berakar pada identitas lokal Bali.
Karena itu diperlukan kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, desa adat, komunitas kreatif, pelaku usaha, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem yang mampu melahirkan inovasi tanpa kehilangan jati diri budaya Bali.
Menurut Agung Gempa, budaya dan teknologi tidak boleh dipertentangkan. Keduanya justru harus berjalan beriringan untuk menciptakan masa depan Bali yang lebih kuat dan berkelanjutan.
“Budaya adalah identitas, teknologi adalah alat, dan kolaborasi adalah kekuatan. Ketika ketiganya berjalan bersama, maka akan lahir Bali yang maju, mandiri, dan berdaya saing global tanpa kehilangan jati dirinya,” pungkasnya.
I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana (Agung Gempa) merupakan praktisi Teknologi Informasi (IT), entrepreneur, mentor digital, penggerak ekonomi kreatif, serta pegiat pengembangan SDM dan UMKM Bali. Berkiprah di dunia teknologi sejak tahun 1996, Agung Gempa dikenal sebagai salah satu pelopor transformasi digital di Bali yang turut terlibat dalam pengembangan berbagai website pemerintahan, layanan publik berbasis digital, media online, pengembangan SDM, serta berbagai program pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi.
Saat ini Agung Gempa menjabat sebagai Ketua Bidang Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) Dekopin Wilayah Bali Periode 2025–2030, Direktur PT SIMAS Bali, penggerak Koperasi Multi Pihak Bali Bangkit Sejahtera, serta aktif sebagai narasumber, mentor digital, dan pengembang berbagai program transformasi digital UMKM, ekonomi kreatif, kewirausahaan, koperasi modern, dan penguatan ekonomi masyarakat berbasis teknologi.
Melalui berbagai workshop, seminar, media digital, podcast, dan kegiatan edukasi masyarakat, Agung Gempa secara konsisten mendorong pemanfaatan teknologi, Artificial Intelligence (AI), digital marketing, dan inovasi kewirausahaan sebagai sarana meningkatkan daya saing masyarakat Bali di era ekonomi digital. Di bidang sosial budaya, ia juga aktif sebagai Ketua Umum Puri Andul Jembrana dalam upaya menjaga dan memperkuat nilai-nilai adat, budaya, serta warisan leluhur Bali sebagai fondasi pembangunan masa depan.
#AgungGempa #EkonomiKreatifBali #BudayaBali #BaliMendunia #BaliDigital #BaliBangkit #BaliInspire #NangunSatKerthiLokaBali #EkonomiKerthiBali #BanggaBuatanBali #UMKMBali #EkonomiKreatif #TransformasiDigital #Kewirausahaan #DigitalMarketing #AIBisnis #KoperasiBali #DekopinBali #IndonesiaMaju #IndonesiaEmas2045 #PariwisataBali #DesaWisata #KreatifBali #BudayaUntukDunia #AgungGempaOfficial